Follow

Most Popular

Tuesday, May 3, 2016

Mencari Ayah di Balik Awan



“Bu Guru, kok Angga liburan dengan kakeknya? Ayahnya mana?” Pertanyaan itu terlontar dari salah seorang teman, sesaat setelah saya maju ke depan kelas, menceritakan pengalaman liburan. Saat itu saya masih duduk di SD kelas satu. Sudah jadi kebiasaan selepas liburan para murid bercerita tentang pengalaman liburannya, yang sebagian besar mereka lakukan bersama ayah mereka.

Bu Guru SD kelas satu itu tertegun mendengar pertanyaan anak itu. Lalu beliau berujar tenang, “Ayahnya sedang bekerja.” Jawaban sekenanya. Saya yakin teman saya tak puas, namun Bu Guru terlanjur mengajak kami membuka buku gambar dan segera saja anak-anak larut dalam imajinasi bersama crayon dan pensil warna.

Sesampainya di rumah, saya bertanya kepada Ibu tentang keberadaan Ayah. “Tuh, di atas awan.” Jawab Ibu ringan sambil terus mengiris sayur yang akan ia masak. Saya pun berlari ke halaman, melihat langit biru dengan beberapa awan menghiasi. Tak ada apa-apa di sana, kecuali gumpalan awan yang kadang serupa beringin, atau muka dua ekor anak kucing, atau seperti tanah yang dicangkul rata. Tak ada Ayah!

Belakangan saya memahami kalau Ayah telah meninggalkan kami sejak saya berusia dua setengah tahun, usia yang terlalu dini untuk mengenali sosok seorang ayah yang akan menjadi teman gulat, sahabat berbagi cerita, bermain kuda-kudaan dan sepak bola. Sesungguhnya Ayah masih di bumi. Hanya saja, Ibu menganggap Ayah di atas awan: dapat dilihat tapi tak dapat disentuh. Ya, Ayah menikah lagi.

Agak lama saya gamang memaknai kata ayah. Bahkan sampai kini pun, genap 20 tahun setelah peristiwa tersebut, peran Ayah selama ini diampu oleh Ibu dan Kakek. Kakeklah yang mengantar-jemput ke sekolah, mengajak liburan, atau sekadar membeli nasi kapau sepulangnya dari kantor. Iri rasanya melihat sahabat yang selalu bercerita tentang ayah mereka.

Perlahan, saya menyadari ternyata Ayah selalu bersama saya. Ia menjelma dalam diri kakek, paman, saudara laki-laki, bahkan sahabat saya. Sosok mereka melakukan peran keayahan—melindungi, mendidik, menginspirasi, dan menjadi sahabat. Mereka pula yang memberikan energi ketika mimpi dan cita digantungkan setinggi bintang, hingga akhirnya dapat meraih capaian-capaian sederhana berupa kumpulan kemenangan kecil dengan berbagai kejutan dari Allah.

Tak sedikit penghargaan yang saya raih. Berbagai kompetisi saya menangi. Ingin rasanya segera pulang sesaat setelah memboyong medali Ayah akan berkata, “Ayah bangga padamu, Nak.” Lalu ia merangkul pundakku layaknya sahabat, kemudian berbincang diselingi perdebatan ringan dan tawa renyah sembari bercerita tentang masa depan. Namun, hal yang sederhana seperti itu tidak saya dapatkan dari mereka yang menjelma menjadi ayah.

Lebih jauh, saya memahami kehadiran ayah adalah energi. Energi yang memompa semangat untuk terus mengukir kemenangan-kemenangan agar menjadi sebaik-baiknya manusia, yang bermanfaat bagi orang lain. Dan, saya pun mendongakkan kepala lagi, berharap energi itu tersenyum di atas awan.

Angga Antagia

Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Definition List

Unordered List

Support